pengaruh bahaya stunting terhadap kognitif anak
Postur tubuh seorang anak dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti faktor genetik,hormonal serta asupan nutrisi yang ia konsumsi.tidak jarang seorang anak berpostur pendek dikarenakan oleh faktor keturunan(orang tua)juga memiliki postur yang pendek(kerdil) akan tetapi ada hal lain yang dapat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak yaitu penyakit stunting.masalah stunting merupakan sebuah isu penting di dunia Kesehatan,khususnya anak anak di negara terlatarbelakang dan negara yang berkembang. Stunting adalah sebuah kondisi dimana seorang anak mengalami keterlambatan pertumbuhan dari anak pada umumnya. Bisa dibilang stunting ini adalah sebuah masalah yang di sebabkan karna sang anak tersebut kekurangan asupan gizi dalam jangka waktu yang lama atau Panjang sehingga membuat tumbuh kembang anak jadi terhambat bisa terlihat anak yang terkena stunting akan mengalami pertumbuhan badan yang rendah atau terlalu pendek(kerdil)dan sangat kurus dibanding standar tinggi badan anak dan berat badan anak pada umumnya,itu yang biasa disebut stunting wasting.biasanya stunting ini terjadi saat anak masih di dalam kandungan sang ibu serta stimulasi atau perawatan psikososial yang tidak memadai atau terpenuhi dari 1000 hari pertama sejak pembuahan dan akan terlihat dengan kasat mata saat anak berusia dua tahun, berikut beberapa gejala yang mudah dikenali dan dilihat saat anak mengalami penyakit ini ialah wajah yang tampak lebih muda dari anak seusianya, pubertas yang lambat, berat badan yang tidak ideal atau dibawah rata rata berat anak pada umumnya(wasting), sulit untuk memahami fokus dan sulit untuk menyimpan memori, maka dari itu stunting ini harus diperhatikan karna hal ini dapat berdampak pada fokus dan memori kecerdasan seorang anak, pada umumnya anak yang terkena stunting memiliki pola fikir serta iq yang sangat rendah, karna saat anak berusia 1-5 tahun itu juga bisa disebut sebagai usia emas karna anak mulai faham dalam berfikir dan mengexplore hal hal yang ada di sekitar mereka serta lingkungannya dan memilik otak yang berkembang pesat dan menyukai hal hal yang membuat mereka penasaran sehingga mereka cendrung tertarik untuk mengamati sesuatu yang mereka temui dan mereka lihat . jika seorang mengalami stunting pasti mereka akan lebih cendrung tidak tertarik akan hal yang dia lihat ataupun tidak faham,tetapi tidak semua anak yang terkena stunting mengalami hal tersebut,maka dari itu perilaku ini pasti akan mempengaruhi cara befikirnya dan menyebabkan gagalnya anak dalam menangkap,merespon,serta memahami apa yang ada di dalam fikirannya ataupun hal yang dia lihat, hal inilah yang akhirnya terancam dapat menganggu kecerdasan anak dalam berfikir apalagi saat sudah memasuki masa prasekolah dimana anak mulai belajar bersosialisasi dengan teman sejawatnya.
Berdasarkan laporan dari badan organisasi Kesehatan dunia,estimasi ada sekitar 149 jiwa anak balita yang mengalami stunting di seluruh dunia pada tahun 2022,sementara 45 juta anak lainnya diperkirakan memiliki tubuh yang terlalu rendah atau terlalu kurus.hasil data riset yang di dapatkan dari Kesehatan Dasar(Riskesdas)menunjukkan prevalasi balita stunting di tahun 2018 mencapai 30.8%.data tersebut masih diatas dari 20% artinya Indonesia belum mencapai target WHO yang ingin mencapai angka dibawah 20%.Negara Indonesia termasuk dalam data negara yang mengalami kasus stunting terbanyak di dunia,termasuk kedalam peringkat ketiga di Kawasan Asia Tenggara setelah Timor Leste dan India dan menduduki peringkat kelima dari seluruh dunia.perlu di perhatikan sebagai persoalan yang penting untuk diatasi karena hal ini berkaitan dengan kesejahteraan anak.Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia yang ingin menaikan derajat Kesehatan anak.Negara Indonesia juga termasuk dalam negara yang ikut berkontribusi meratfikasi konvensi Hak tentang anak.Konvensi anak sendiri terdiri dari empat prinsip yaitu non-diskriminasi,kepentingan yang terbaik bagi anak,kelangsungan hidup dan perkembangan anak,dan penghargaan terhadap pendapat anak.bisa dikatakan juga dalam memberantas stunting juga termasuk upaya dalam peningkatan hak konvensi anak serta kesejahteraan anak.Prevalasi stunting pada balita di Indonesia cendrung cukup drastis hasil riset riskesdas tahun 2007 yang menunjukkan peningkatan yaitu 36,8%. Pada tahun 2010 terjadi sedikit penurunan yaitu menjadi 35,6%. Namun setelah terjadi penurunan,disaat tahun 2019 mengalami peningkatan tetapi tidak terlalu signifikan yaitu 37,2%.berdasarkan hasil pemantauan gizi (PSG) tahun 2015,prevalasi stunting di Indonesia sebesar 29%,mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.pada tahun 2022 ini pravelansi data yang terkena stunting telah menurun sebanyak 3%.sebagai negara yang termasuk dalam 5 besar negara yang terkena stunting ada beberapa kota di Indonesia yang memiliki penyakit ini secara pesat beberapa diantaranya ialah provinsi Nusa Tenggara Timor yaitu kota kupang.Kota kupang adalah satu satu kota yang menjadi sarangnya penyakit stunting pada anak.sementara ini seluruh anak yang menderita stunting di kota kupang mencapai 3,462 atau 23,7%.diketahui anak anak di provinsi NTT terutama kota kupang menjadi tempat yang sangat pesat tumbuhnya stunting hal ini dapat dipicu karna beberapa faktor. Menurut WHO (World Health Organization) faktor utamanya adalah kekurangan nutrisi pada bayi dalam jangka waktu yang cukup panjang dan lama seperti misalnya kekurangan gizi saat masa di dalam kandungan ,disebabkan karna sang ibu jarang memperhatikan pola makannya misalnya kurang asupan nutrisi kalsium,zat besi, asam folat, omega-3, serta vitamin juga mineral yang cukup.akibatnya janin yang di kandung memiliki nutrisi yang tidak memadai.kurang gizi juga dapat disebabkan karna sang ibu mungkin mengalami sakit malaria, hipertansi, HIV/AIDS atau Riwayat penyakit lainnya yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin di dalam kandungan.kemudian dapat juga disebabkan oleh infeksi atau penyakit menular seperti penyakit diare, kerusakan usus, atau gangguan pertumbuhan lainnya tanpa gejala pada usia 3-5 bulan hingga semakin terlihat pada usia 6-18 bulan.bila segera tidak di tangani itu dapat berdampak buruk pada sang anak,bisa bisa sang anak terjangkit penyakit stunting ataupun wasting(terlalu kurus).kemudian yang ketiga disebabkan karna kurang gizi, mungkin ini juga dapat dsebutkan sebagai kelalaian orang tua yang kurang memperhatikan pola asupan dan makan anaknya misalnya sering mengonsumsi ciki cikian,minum minuman warung dan jajan sembarang dan tidak diimbangi dengan makanan yang sehat seperti mengonsumsi susu, vitamin, serta suplemen vitamin makanan.yang keempat karna faktor lingkungan,faktor lingkungan ini berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak bila anak lahir di tempat dan kondisi lingkungan yang kurang bersih misalnya sulit mendapat akses makanan yang sehat dan air yang bersih, ini dapat berimbas pada Kesehatan anak karna anak kecil imbunnya masi rentan sehingga bila diberi makanan yang kurang sehat maka anak akan kekurangan asupan nutrisi serta vitamin yang seharusnya mereka dapatkan semasa balita. terutama anak di kota kupang yang mayoritasnya terkena stunting karna kelalaian orang tua dan tidak memperhatikan konsumsi makan anak ini juga bisa terjadi karena kota kupang terutama di pedesaanya sangat sulit untuk mendapat kualitas makanan yang 4 sehat 5 bergizi.maka dari itu asupan gizi sangat perlu diperhatikan karna bila kurangnya asupan nutrisi makan akan berpengaruh pada kecerdasan anak, Pola fikir serta saat dia melihat sesuatu hal ini sangat berdampak apalagi jika anak sudah mulai mengenal dunia serta teman teman saat di masa sekolah ,anak tersebut akan sulit memahami apa yang telah dijelaskan oleh guru maupun temannya dikarenakan iq yang rendah sehingga sulit untuk menangkap stimulus yang diberikan untuk sang anak.sehingga jika anak tidak mengerti apa yang di pelajari maka seterusnya akan begitu.hal ini juga bisa memicu sang anak dibully oleh teman teman nya karna kondisi fisik yang kurang serta cara berfikir yang lambat dan belum matang.yang jelas menganggu kejiwaan psikis juga kognitif sang anak.tingkat kecerdasan anak
Komentar
Posting Komentar